PROGRAM PEMUTARAN KHUSUS




Catatan Program Pemutaran Khusus
Kejenakaan Anak-Anak sebagai “Yang Mulia”
Oleh Orlin Tsamara

Anak-anak dengan segala kepolosannya dan ketidaktahuannya terhadap dunia yang baru belia mereka tempati memang sangat lucu. Tak jarang beberapa peristiwa-peristiwa remeh temeh, yang tidak terpikirkan oleh orang dewasa, menjadi masalah yang amat besar bagi mereka. Dengan segala pengetahuan mengenai hidup yang sedikit mereka dapatkan dari sekitar dan dari segala desas desus yang beredar, mereka mencari jawaban atas masalah mereka sendiri, dan merasa bahwa mereka memegang tanggung jawab akan masalah yang mereka hadapi.

Tanggung jawab sendiri secara literal berarti “kemampuan untuk merespons atau menjawab”. Itu artinya, tanggung jawab berorientasi terhadap orang lain, memberikan bentuk perhatian dan secara aktif memberikan respons terhadap apa yang mereka inginkan. Tanggung jawab menekankan pada kewajiban positif untuk saling melindungi satu sama lain[1]. Sikap tanggung jawab untuk anak termasuk dalam ranah aspek perkembangan sosial emosional.

Mereka, manusia-manusia belia yang masih sedikit sekali merasakan asam dan garamnya hidup, seakan-akan menjadi hakim atas perbuatan mereka sendiri sekaligus menjadi pelaku dalam masalah yang mereka yakini sendiri.

Film-film dalam program ini menayangkan bagaimana anak-anak menghadapi masalah mereka, mungkin bagi sebagian orang dewasa adalah masalah yang amat sangat remeh, dengan caranya sendiri dan bertanggung jawab akan jawaban yang akan mereka ambil. Disini, anak-anak menjadi hakim dari perbuatan mereka sendiri sekaligus menjadi “Yang Mulia” dalam arena peradilan yang serba jenaka.

Film pertama, Subur Itu Jujur (Gelora Yudhaswara, 2018) menggambarkan karakter tokoh utama yang bertanggung jawab atas amanah yang diberikan.

Hujan di Musim Kemarau (Andri Firmansyah, 2019) memperlihatkan masalah si tokoh utama yang merasa memiliki tanggung jawab akan sesuatu yang ia inginkan dan berusaha mencari solusi dari permasalahannya sendiri.

Hal yang sama diperlihatkan pada film Where is My Cow? (Aditya Saputra, 2018) dimana seorang anak yang berusaha mempertahankan amanat yang ia emban dan bertanggung jawab atas apa yang terjadi.

Kemudian Tetet Dito (Fikri Muttaqin, 2019) menggambarkan problematika seorang anak yang mendapat tekanan sosial dari teman-temannya dan merasa memiliki tanggung jawab untuk memenuhi sesuatu agar terlepas dari tekanan sosial yang ia hadapi.

Zulfani Yuninda menceritakan kisah kakak yang lalai akan tanggung jawabnya terhadap si adik melalui Encret (2019). Lalainya sang kakak menimbulkan masalah lainnya dan berdampak buruk kepada keselamatan sang adik.

Terakhir, Utan Rambutan (Andra Fembriarto, 2019) adalah film animasi yang menceritakan tentang keinginan untuk bebas tanpa mengabaikan tanggung jawabnya.

Logika anak-anak mentransformasi tanggung jawab menjadi konsep yang jenaka. Proses berpikir yang jujur dan sederhana membuat anak-anak akan selalu mengeluarkan putusan-putusan yang menggelitik ketika menjadi hakim atas perbuatannya sendiri. Entah itu berusaha mengundang hujan di musim kemarau, tetap jujur walau kawan sekolah ramai-ramai berbuat curang saat ujian praktik, mereka berani membuat keputusan di usia dini dan jujur kepada dirinya sendiri.



[1] Thomas Lickoma, Mendidik Untuk Membentuk Karakter: Bagaimana Sekolah Dapat Mengajarkan Sikap Hormat dan Tanggung Jawab, Penerjemah, Jumu Abdu Wamaungo, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), hlm. 72




Program Pemutaran Khusus

1.     1. Subur Itu Jujur
Gelora Yudhaswara / 16 menit 29 detik / Komunitas Film Ponorogo / 2018





Sinopsis:
Subur (L/12) adalah seorang siswa kelas 6 SD, berbadan gemuk. Hari itu ada ujian mata pelajaran olah raga yaitu lari jarak jauh dengan mengelilingi dusun yang berada di dekat Sekolah. berbagai godaan menhampiri Subur ketika mengikuti ujian lari, seperti Somat yang mempir ke rumahnya untuk makan, Rio dan Topan yang menggunakan jalan pintas agar lebih cepat sampai, dan Marni sebagai anak manja yang di bonceng ayahnya agar tidak kelelahan. Pak Budi yaitu guru olah raga ternyata memergoki siswa-siswa yang berbuat curang, dalam ujian lari tersebut Pak Budi mengawasi dan mengikuti siswa-siswi secara sembunyi. Seperti bersembuyi di Kandang Ayam, Kandang Kambing, dan menjadi orang-orangan sawah. Perjuangan subur menghadapi godaan dari teman-temanya membuahkan hasil, Subur mendapatkan nilai paling tinggi.




1.     2. Hujan di Musim Kemarau
Andri Firmansyah / 14 menit 8 detik / FFTV IKJ / 2019





Sinopsis:
Adul, bocah berumur 10 tahun, berjualan jas hujan agar bisa mendapatkan uang untuk biaya sunatnya. Ketika ia hendak menjajakan jualannya, cuaca tidak mendukung. Adul, dengan segala keyakinannya, mencoba melakukan salah satu mitos agar hujan dapat turun.




1.     3. Where is My Cow?
Aditya Saputra / 11 Menit / Blueline Studio / 2018



Sinopsis:
Siong (8 tahun) merupakan anak pengembala sapi, ia di suruh tanggung jawab untuk menjaga sapi. Kebetulan orang tua siong ingin menuju ke pasar, ia di peringati oleh orang tuanya bahwa itu
merupakan sapi terakhir. Siong pun menuju ke padang rumput untuk memberi makan sapinya. Sambil memainkan layangannya siong pun asik bermain, tiba-tiba layangannya putus dan pergi mengambil
layangannya, tetapi ia lupa bahwa sapi itu tidak terikat di sebuah pohon, ketika siong telah kembali pulang dengan rasa kecewa karna layangannya rusak,ia pun bingung dan panik karena kehilangan sapinya lalu ia bergegas mencari sapi tersebut. sesekali ia melihat sapi itu kabur dari hadapannya lalu ia lari memburu sapinya, ia terus mencari sapinya dan sesekali ia melihat sapinya lagi, ketika ia berlari dia diteriaki oleh seseorang bahwa ia di panggil oleh bapaknya di rumah karena sore hari belum juga mengembalikan sapi bapaknya. Siong pun semakin panik mendengar panggilan dari bapaknya, ia pun melanjutkan untuk berlari dan mencari sapinya yang hilang, ketika ia sudah mulai
pasrah ia melihat sapi di depannya ketika itu juga ia mulai senang karena berharap sapinya kembali. Ia pun menuju di hadapan sapi tersebut dan ternyata sapi itu bukan miliknya. Sapi tersebut merupakan sapi orang lain yang sedang makan di padang rumput. Dan ketika itu juga yang punya sapi itu sedang memotong rumput. Ia sudah mulai merasa lelah dan ingin berencana untuk mengambil sapi milik orang lain untuk di bawah pulang.


4        4. Tetet Dito
Fikri Muttaqin / 12 menit 55 detik / Sunrise Films / 2019





Sinopsis:
Dito, seorang siswa SD penakut yang belum disunat, ingin terlepas dari ejekan temannya karena hanya ia yang belum sunat. Dengan cara meminta sunat kepada ibunya, masalah muncul ketika teman-temannya berusaha mempengaruhinya.




1       5. Encret
Zulfani Yuninda / 22 menit / Empat Belas Project / 2019





Mahmud mendapat perintah dari ibunya untuk menjaga adiknya, Sawiyah yang sedang sakit. Akan tetapi, Mahmud malah mengajak Sawiyah untuk bermain balapan sepeda. Saat balapan berlangsung, Sawiyah merasa sakit perut dan Mahmud menganggap bahwa itu sakit perut biasa. Tak lama kemudian, Sawiyah terkulai lemas terjatuh dari sepeda Mahmud.




1     6. Utan Rambutan
Andra Fembriarto / 8 Menit 4 Detik / Studio Amarana / 2019





Sinopsis:
Utan, sebuah rambutan, melihat seekor burung terbang di langit. Utan mengepakkan rambut-rambutnya seperti sayap berharap bisa terbang sehingga ia membuat kegaduhan. Utan ditegur oleh rambutan-rambutan sekelilingnya yang ingin ketenteraman. Tetapi, tetiba datanglah ancama misterius yang akan mengganggu ketenteraman itu. Kini, Utan harus bisa menggunakan keinginannya untuk terbang demi mengembalikan ketenteraman.


No comments:

Post a Comment

INSTAGRAM FEED

@festivalproyeksi