PROGRAM PEMUTARAN UTAMA 1





Macam Kiat Manusia dalam Mengaburkan Lara

Oleh Orlin Tsamara

Manusia, pada dasarnya, akan selalu mencari dan melakukan sesuatu yang mereka yakini benar pada ‘jalannya’ dan cenderung mengikuti standar-standar sosial yang berlaku. Tidak salah, kehidupan manusia memang hanya berkutat di ukuran untuk menganalisis, menelisik, serta memilih sikap yang sebaik-baiknya untuk dipergunakan di masyarakat. Selain dari pada itu, semua sikap yang dinilai menentang standar sosial dianggap buruk meskipun intensi atau hal yang melatarbelakangi tidak sepenuhnya buruk, seburuk apa yang orang-orang pikirkan.

Lara diyakini menjadi salah satu dari sekian banyaknya hal penyebab ditentangnya patokan sosial yang sebelumnya telah dibenarkan secara tidak tertulis oleh masyarakat sekitar. Meskipun demikian, dapat kita percaya bahwa kehidupan dan lara adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sangat mustahil jika harus memisahkan keduanya karena pada nyatanya, keduanya saling melengkapi. Lara hadir sebagai salah satu dari sekian banyaknya cara agar manusia merasakan apa yang seharusnya dirasakan, meskipun rasa yang ditimbulkan menyedihkan dan menyakitkan. Tak aneh jika kejadian-kejadian lara, yang sudah jelas kepastiannya, menimbulkan beberapa polemik dari dalam diri si tokoh yang mengalaminya; terkurung dalam dirinya dan dunia utopis yang coba ia bangun sendiri, menyangkal bahwa lara tersebut sudah terjadi serta perasaan menyelekit yang menimbulkan perasaan tidak aman.

Manusia memiliki hasrat akan adanya konsistensi pada keyakinan, sikap, dan perilakunya[1]. Kejadian-kejadian lara yang menimpa diri manusia tentunya menggoyahkan hasrat akan konsistensi yang digadang-gadang menjadi salah satu aspek yang harus dimiliki dalam dirinya. Akibatnya? Kehampaan, kepanikan, kegilaan delusi, dan disonansi yang terjadi karena tidak berjalan seharusnya seperti yang diinginkan. Kembali ke sifat aslinya, manusia cenderung mengurangi disonansi yang terjadi dan mencapai keselarasan, seperti yang diinginkan semula. Manusia, secara alamiah, akan menolak segala macam bentuk informasi dan situasi yang akan memunculkan disonansi, perasaan tidak nyaman akan sesuatu diluar dugaan.

Program ini berkutat di sekitar kejadian-kejadian lara diparodikan dan dikaburkan menjadi sesuatu yang dapat diterima secara akal sehat dan dengan senang hati; berusaha melepaskan diri dari kurungan denialisme dengan caranya masing-masing. Masing-masing film yang ada di program ini; Cooking Flower, Malam Minggu Kliwon, Kuntilanak Pecah Ketuban, Hari yang Menyenangkan dan Life of Death, memrepresentasikan bagaimana manusia (dan makhluk hidup lainnya) mengaburkan lara yang ada menjadi sesuatu yang dapat diterima secara sehat.

Dibuka dengan Cooking Flower (Agung Jarkasih, 2018), kisah tentang dua anak  mencari kebahagiaan yang tidak didapatkan dari kedua orang tuanya serta berusaha membuat premis baru bahwa mereka dapat bahagia meskipun orang tua mereka tidak memberikan kebahagiaan yang mereka inginkan dengan melakukan hal-hal yang menurut mereka dapat menghilangkan disonansi yang ada serta mengaburkan lara.

Kemudian ada Malam Minggu Kliwon (Aryudha Fasha, 2019) bercerita tentang seorang pemuda yang mengalami kejadian aneh sebelum ia bertemu dengan kekasihnya. Banyaknya kejadian tidak pasti yang terjadi seakan-akan membuahkan suatu kecemasan dalam dirinya, tetapi pemuda tersebut berusaha mengaburkan segala ketidakpastian itu dengan menganggap bahwa semuanya baik-baik saja.

Pada film Kuntilanak Pecah Ketuban (Amer Bersaudara, 2018), kejadian mengaburkan lara dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mengaburkan lara dengan menjadikan proses kematiannya sebagai sebuah hiburan bagi penghuni neraka.

Kejadian mengaburkan lara terlihat jelas pada film Hari yang Menyenangkan (M. Rizal Hanun, 2018) ketika sepasang kakak beradik berusaha untuk melupakan kejadian lara yang tengah dialami oleh mereka berdua dengan mencari distraksi yang sekira mereka dapat mengaburkan lara yang ada.

Terakhir, Life of Death (Jason Kiantoro & Bryan Arfiandy) adalah film animasi yang menceritakan tentang seorang Grim Reaper atau yang biasa kita sebut sebagai pencabut nyawa dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari.

Pada dasarnya, manusia akan melakukan tindakan-tindakan untuk keluar dari jerat rasa tak nyaman yang dirasakan. Tidak ada pilihan lain terkait disonansi ini; jika hal ini terjadi, ada sesuatu yang harus dilepas, atau ada ketidaksesuaian antara suatu keyakinan dengan keyakinan-keyakinan atau sikap yang penting. Bersikeras mempertahankan kedua-duanya, akan terasa sangat menyiksa.





[1] West, Richard dan Turner, Lynn H. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: PT. Salemba Humanika. Bab 7.




Program Pemutaran Utama 1



1.   1Cooking Flower
Agung Jarkasih / 15 menit / Bale Films / 2018



Sinopsis:
Nadia dan Najwa, sepasang anak perempuan yang belia, kecewa dengan orang tua keduanya yang sibuk. Dalam perbincangannya, mereka mengatakan bahwa rindu dengan masakan ibu mereka yang sudah lama tidak merasakannya. Kerinduan tersebut coba mereka obati dengan bermain masak-masakan bunga dan dedaunan.



2.   2Malam Minggu Kliwon
Aryudha Fasha / 21 menit / Se7uta Films / 2019


Sinopsis:
Suatu malam, bertepatan dengan hari jadi satu bulan hubungan mereka, Valno bersikeras untuk dapat bertemu Dina dan merayakannya berdua. Awalnya Dina menolak. Namun tiba-tiba ia malah menyuruh Valno untuk segera datang dan menemaninya di rumah, karena orang tuanya telah mendadak pergi ke luar kota.

Tanpa pikir panjang, Valno bergegas dari dalam kamarnya. Ia tak membayangkan “apa” yang sedang menantinya di sana.




3.   3. Kuntilanak Pecah Ketuban
Amer Bersaudara / 15 menit 8 detik / Kolong Sinema / 2018

Sinopsis:
Sinta dan Krisna bekerja sama untuk membunuh Santi. Setelah meninggal, Santi dikirim ke neraka. Di ruang tunggu neraka, Santi bertemu dengan Iblis penjaga neraka dan melihat bahwa proses kematiannya dijadikan bahan hiburan dan tayangan untuk para penghuni neraka lainnya. Santi pun menjual dirinya kepada Iblis Penjaga Neraka untuk dapat kembali hidup dan membalas dendam kepada Sinta dan Krisna.




4. Hari yang Menyenangkan
M. Rizal Hanun / 6 menit 30 detik / IKJ / 2018



Sinopsis:
Suatu hari, Widya mengajak paksa kakaknya yang autis, Oni, untuk pergi dari rumah. Oni, yang resah karena dipaksa pergi bersama Widya seketika berubah riang gembira setelah melihat kereta api yang melintas dari pinggiran rel. Melihat hal ini, Widya yang sedih perlahan mulai kembali tersenyum.




5.   5. Life of Death
Jason Kiantoro & Bryan Arfiandy / 5 menit 23 detik / Pentamotion / 2018



Sinopsis:

Death, yang sedang berjuang menyeimbangkan kehidupan kerja dan
keluarganya, berbicara tentang keberadaanya, pekerjaannya,
dan pandangannya terhadap dunia manusia dalam sebuah wawancara
di program dokumenter 'Life of Death'.



No comments:

Post a Comment

INSTAGRAM FEED

@festivalproyeksi