PROGRAM PEMUTARAN UTAMA 2


Catatan Program Pemutaran Utama 2
Membredel Kungkungan Oposisi Biner dalam Narasi
Oleh Jodie Raihan Z.

Antagonis identik dengan sifat melawan, memberontak, maupun menentang. Dalam kaidah perfilman, karakter penentang merupakan salah satu bumbu vital dalam membangun cerita. Perannya tidak pernah lepas dari proses pembentukkan karakter si tokoh utama. Selaras dengan kehidupan sehari-hari, setiap manusia—apabila dianalogikan dengan cerita fiksi dalam film—memiliki aditokoh dan penentangnya masing-masing dalam cerita kehidupannya. Nilai moril seorang protagonis ditekankan pada setiap narasi sehari-hari, dan untuk mempertegas kebaikan itu maka setiap narasi selalu menemukan caranya sendiri untuk mengantagoniskan pihak tertentu. Ketika realitas dan diskursus-diskursus meluas, kesadaran bahwa posisi tokoh bergantung pada narator. Baik dan buruk: menurut siapa?
Program ini berusaha mengacak batasan nilai-nilai standar penokohan dalam narasi-narasi lama terbangun di masyarakat. Tokoh-tokoh dalam program film ini tidak menyuratkan suatu pijakan pada nilai tertentu ataupun terkungkung dalam pilihan-pilihan oposisi biner. Mereka bereaksi terhadap realitas dengan caranya sendiri. Film-film dalam program ini adalah sebuah wacana kritis bahwa manusia dan realitas bersifat dinamis. Jika ditelaah melalui teori pertimbangan sosial1 yang menyatakan bahwa perubahan sikap seseorang terhadap objek dan isu sosial tertentu merupakan hasil proses pertimbangan personal, tokoh-tokoh dalam program ini bereaksi terhadap konflik hidupnya menurut titik referensi terdahulu dan peta kognitif masing-masing. Tokoh-tokoh ini, karena tingkahnya yang anomali, barangkali kita bisa sepakati sebagai “penentang”.
Program ini mencoba untuk mengesampingkan perspektif umum bahwa penentang merupakan seseorang yang dianggap buruk. Program ini mencoba untuk mengajak penonton melihat dari sudut pandang yang lebih luas—melihat suatu fenomena secara holistik. Sepotong Halo, Telur Setengah Matang, Indra Mehong, dan The Wolf is Watching menupakan representasi dari narasi-narasi yang bersuara kecil, mengenai bagaimana sisi mereka-mereka yang bukanlah seorang aditokoh.
Film pertama berkisah mengenai seorang pria yang mengalami keguncangan pasca keluar dari konsekuensi akibat perbuatan yang ia lakukan di masa lalu. Sepotong Halo (Hendi Satria Purba, 2018) menunjukkan kausalitas dari tindakan seorang penentang, sekaligus bagaimana dia merespon hal tersebut sebagai manusia. Dikisahkan Sumarno, seorang narapidana korupsi yang baru saja menghirup udara luar setelah sepuluh tahun merasakan gelapnya di balik jeruji besi. Ia mengalami banyak konflik pasca bebas dari sanksi. Fluktuasi emosi dan dilema terjadi ketika pria tersebut ingin kembali ke tempat dimana ia semestinya berada, tempat yang sejatinya diselimuti kehangatan, tempat yang sering ia sebut dengan keluarga. Namun, status koruptor yang melekat pada dirinya membuat istri dan anaknya tak mau lagi menemuinya. Lalu di lain sisi ia juga tak kuasa menahan keinginan untuk menelepon keluarganya. Kemudian yang membuatnya ragu adalah konflik batin yang bergejolak karena perasaan rindu, berseteru dengan perasaan malu dari masa lalu. Untuk sedikit mengatasi hasratnya ini, Sumarno melampiaskannya menggunakan telepon mainan. Hingga pada akhirnya ia cukup berani untuk mengatakan “halo” kepada orang yang berharga untuknya.

Telur Setengah Matang (Reni Aprillia, 2019) bercerita tentang sosok penentang yang  digambarkan sebagai seorang anak SMP dengan kompleksitas konflik akibat kehamilan tanpa status pernikahan. Annisa yang harus menanggung malu akibat kehamilan yang tidak pernah ia inginkan. Bukan hanya malu, tapi perkara tersebut juga membuntut ke konsekuensi-konsekuensi lainnya yang harus ia tanggung: dikeluarkan dari sekolah, pacarnya yang pergi tanpa tanggung jawab, dan sebuah keharusan untuk mencari solusi yang tepat dalam mengatasi pelik yang sedang dihadapinya. Film karya Reni Aprillia ini bercerita mengenai konflik-konflik batin dan hubungan dengan orang tua.
Lalu, Indra Mehong (Rochmat Nur Hidayat, 2019) adalah film dokumenter tentang seorang mantan preman yang menemukan kehidupan baru setelah memutuskan untuk berubah. Film ini menceritakan kisah hidup seorang pria bernama Indra, mantan preman yang mengaku menemukan hidayah setelah kelahiran anak perempuannya. Indra Mehong menceritakan proses perubahan Indra dari seorang tokoh yang banyak ditakuti di Yogyakarta menjadi seorang yang saat ini dikenal agamis oleh masyarakat dan peduli dengan lingkungan di sekitarnya. Melalui film ini, Rochmat Nur Hidayat menceritakan kisah Indra sebagai sosok yang mengalami transformasi identitas, dan berani melepas ikatan-ikatan diri dengan pengalamannya di masa lalu.
Jika tiga film sebelumnya membahas mengenai cerita seorang penentang pasca tindakan yang diperbuatnya, pada film The Wolf is Watching (Eucharisteo Yosua, 2018) mengelaborasi sikap seorang vigilante: tokoh yang menentukan kebenarannya sendiri, cenderung memberi ganjaran mereka yang menyalahi konsep keadilan. Film ini mengisahkan tentang keresahan yang terjadi di sebuah kampung akibat hilangnya sebuah kambing milik seorang warganya. Diceritakan Arman, merupakan seorang detektif yang bertugas untuk menyelidiki kasus tersebut. Pada penyelidikannya ia berhasil menemukan tiga orang tersangka pelaku pencurian kambing milik warga. Proses interogasi berjalan alot hingga terungkaplah seorang tersangka. Namun, proses pengungkapan ini rupanya merupakan andil sang vigilante, yang mengawasi tiap-tiap kecerobohan manusia bagai serigala di malam sebelumnya.

Program ini tidak hanya berupaya untuk menerobos kecenderungan oposisi biner yang terkandung dalam narasi, namun juga menunjukkan karakter-karakter dan ragam realitas yang dihasilkan dari proses-proses pertimbangan manusia dalam pemecahan masalahnya sendiri dan dampaknya pada orang-orang di sekitar mereka (begitupun lingkungan sosial). Adapun tujuan program ini hanyalah sebagai proyeksi akan pemandangan kami terhadap sosok-sosok lain dalam narasi, sebab sebenarnya apa yang ada di pemikiran tokoh-tokoh ini akan selalu menarik untuk menjadi topik diskusi.





Program Pemutaran Utama  2

1     1.  Sepotong halo
 Hendi Satria Purba  / 32 menit / 2359 pictures / 2018





Sinopsis:
Sumarno (48), adalah seorang mantan pejabat negara yang baru saja keluar dari penjara setelah menyelesaikan masa hukuman tindak pidana korupsi. Sepuluh tahun lamanya ia mendekam di dalam penjara. Istrinya, Mei (46) dan anaknya, Sovia (18) meninggalkan Sumarno karena malu memiliki suami dan ayah yang merupakan seorang koruptor. Mei dan Sovia tidak menghubungi dan menjenguk Sumarno sama sekali selama ia berada di dalam penjara. Sumarno mengumpulkan keberanian untuk menghubungi kembali Mei dan Sovia dengan pura-pura menelepon Sovia dan Mei menggunakan telepon mainan. Pada saat Sovia masih kecil, Sumarno dan anaknya sering bermain telepon-teleponan menggunakan telepon mainan itu.  Sumarno pun mencurahkan cerita, rasa menyesal, dan harapannya pada telepon mainan itu supaya merasa lega dan berani untuk menghubungi kembali Mei dan Sovia.




1.     2. Indra mehong
Rochmad Nur Hidayat / 21 menit 48 detik / buah tangan films / 2019





Sinopsis:
Pak Indra merupakan mantan preman yang sedang berproses dalam bertaubat. Kehidupannya berubah sedikit cepat setelah memiliki anak perempuan. Beliau bernadzar akan bertaubat jika memiliki anak perempuan. Beliau menjadikan anak-anaknya sebagai “rem” atas perilaku kesehariannya. Aktivitas sehari-harinya perlahan menunjukkan hal yang positif. Mulai dari beribadah, kedekatan dengan keluarga, teman, warga sekitar, hingga sifat kepedulian terhadap sesama yang telah mendarah daging sejak beliau masih anak-anak. Perubahan kehidupan dan pekerjaan begitu terasa dan kehidupannya kini menjadi terasa lebih tenang. Meski demikian, perlu diketahui bahwa proses berhijrah tidaklah instan. Perlu proses panjang, penuh perjuangan, kesabaran, dan ke keistiqomahan.



1.     3The wolf is watching
Eucharisteo Yosua  / 16 menit 19 detik / High Hill Pictures / 2018





Sinopsis:
Di sebuah desa terpencil, telah hilang sepasang kambing milik tetua desa, Uwak Rahmat. Kasus kehilangan ini bertepatan dengan kepindahan Arman, seorang detektif amatir, ke desa itu. Ia pun dicurigai Uwak Rahmat sebagai pencurinya. Uwak Rahmat memberi ultimatum pada Arman, jika dalam dua hari ia tidak dapat menemukan kambing Uwak Rahmat, maka Armanlah yang akan dibakar oleh Uwak Rahmat dan pengikutnya.




1       4. Telur setengah matang
Reni Apiliana / 16 menit 11 detik / larasati creative lab / 2019





Sinopsis:
Anisa, remaja perempuan yang berusaha mencari solusi dari permasalahan kehamilan tidak diinginkan.

No comments:

Post a Comment

INSTAGRAM FEED

@festivalproyeksi