PROGRAM PEMUTARAN UTAMA 3








Catatan Program Pemutaran Utama 3
Menjungkirbalikkan Modernitas: Budaya adalah Material yang Omnipresens
Oleh Adinda Mauradiva

Modernitas, apabila disandingkan dengan elemen-elemen berupa budaya, tradisi, dan kearifan lokal, seringkali dilihat menggunakan kacamata terpisah, yang kemudian menghasilkan penempatan saling berkebalikan, tetapi tak urung berdekatan. Take 2: Modernitas dan budaya adalah kesenjangan yang, terkadang, dipaksakan. Seakan-akan kedua entitas itu adalah sesuatu yang benar-benar lain; antara kekukuhan produk turun-temurun intelegensi manusia berupa budaya kolektif untuk bertahan di suatu masa dan inovasi, pembaharuan, serta kemutakhiran yang berbondong-bondong menggantikan satu aspek kehidupan dan lainnya. Secara berulang-ulang, seperti transfer budaya yang dilakukan oleh generasi tua, yang akan usai, ke generasi muda, dan yang akan datang.
Pendekatan transfer budaya itu dibungkus secara hangat melalui dokumenter Manunggal: The Man Who Sold the World (Dior Octrianto Pamungkas, 2018). Reuni anggota Sanggar Guntur itu dicetuskan oleh pendirinya, Guntur Tri Kuncoro yang resah atas kepasifan masyarakat sekarang dalam keterlibatannya terhadap kesenian lokal. Hal ini selaras dengan ide Marshall McLuhan tentang “global village”¹, atau keberadaan dunia tanpa sekat. Dari sini, muncullah “cultural imperialism”², yaitu kemudahan pertukaran dan peresapan budaya oleh negara yang lebih domina menentukan konsumsi kultur masyarakat dunia. Namun, pada akhir film, Guntur CS berkata lain: generasi muda mampu meneruskan praktik kesenian yang berangkat dari pementasan Tari Kethek Ogleng di tengah kesesakan modernitas; mereka menaruh harapan itu.
Lain halnya dengan Limbah Budaya (Liris Puspita, 2018), dokumenter ini menyenggol sangkut-paut industrialisme terhadap sistem yang lebih luas. Pelaku tunggalnya adalah produksi batik di pabrik Laweyan, Solo, yang membuang limbah ke Kali Jenes. Warga lokal Surakarta mengamini sabda Anthony Giddens tentang industrialisme yang mendefinisikan modernitas; tetapi lebih dari itu, jika budaya dibungkus dalam produk massalnya, maka budaya yang eksis bersamaan dengan modernitas berakibat pada kecenderungannya dieksploitasi oleh yang berkepentingan tanpa mempertimbangkan efeknya, dan dilihat sebagai komoditi yang masih membanggakan, padahal tak luput pula dari kerusakan.
Modernitas dan budaya, lagi-lagi, adalah kesenjangan yang dipaksakan, karena budaya hadir di sudut-sudut terkecil: terkucilkan, dan tanpa disadari, karena kita sendiri terlalu

¹ The new electronic interdependence recreates the world in the image of a global village” (McLuhan & Fiore, 1967, p. 67)
² The concept of cultural imperialism today best describes the sum of the processes by which a society is brought into the modern world system and how its dominating stratum is attracted, pressured, forced, and sometimes bribed into shaping social institutions to correspond to, or even promote, the values and structures of the dominating centre of the system.” (Schiller, 1975)

sibuk oleh masalah urban. Ambil contoh, ritual klenik menyatu dengan tanah di Topo Pendem (Imam Syafii, 2018) yang menceritakan keinginan seorang bapak untuk kenormalan anak autisnya. Perkara perlakuan khusus bagi anak autis lebih mudah dijumpai di perkotaan yang menyediakan fasilitas terapi dan lingkungan yang mendukung daripada di pedesaan. Skala lebih besar, adalah pergerakan feminisme, yang ditampakkan secara subtil di Gowok: The Ins and Outs of a Woman’s Body (Steve Masihoroe, 2018). Jika feminisme me-reservasi tempat di masa modernitas, maka tradisi seorang perempuan yang mendidik remaja lelaki agar mengenal seluk-beluk tubuh perempuan³ yang telah hilang dari peradaban masa kini terlihat lebih superior, baik pada zamannya dan waktu sekarang, karena perempuan yang tahu-menahu tentang hal-hal yang berkaitan dengan perempuan dan mengajarkannya kepada lelaki adalah sebuah bukti bahwa perempuan juga dapat menggenggam segala sesuatunya di bawah tangannya.
Masing-masing keempat film di program ini mengandung pertanyaan dan jawaban mengenai dua variabel penting: modernitas dan budaya. Budaya, sesungguh-sungguhnya, tidak akan pernah hilang, se-modern apapun manusia, seubahnya yang masih dan terus akan ada. Budaya merupakan proses yang terinternalisasi dan menjadi bagian dari modernitas, seiring modernitas kunjung membuka diri terhadap budaya-budaya terdahulu, yang sebisa mungkin dipelihara. Meminjam kata-kata Robert K. Logan dalam pembahasan dasar biologis ekologi media: budaya tidak akan ada tanpa manusia yang mengakuinya, menjalaninya, dan menghidupinya sebagai inang… begitu pun dengan modernitas.

³Budi S, Nyai Gowok: Novel Kamasutra dari Jawa (DIVA Press, 2014).





Program Pemutaran Utama 3

1    1.Limbah Budaya
Liris Puspita / 15 menit 12 detik / Corak Cinema/Rooftop Films / 2018

Sinopsis :
Produktivitas pembuatan batik mengancam keberadaan air bersih. Pencemaran terhadap bau dan resapan air sumur terganggu hingga sumur harus di non-aktifkan. Lebih dari itu, terdapat kompleksitas pemasalahan lainnya yang menyangkut  masyarakat, pengusaha industri batik, dan pemerintahan.




1.     2. Manunggal: The Man Who Sold the World
Dior Octrianto Pamungkas / 29 menit 09 detik / Baswara Films / 2018




Sinopsis : 
Guntur alias Gepeng sudah lama memiliki profesi sebagai seniman tari. Ia mempunyai impian dan misi melestarikan kesenian Tari Kethek Ogleng dengan “ngamen”, juga bertujuan untuk menunjukkan bahwa tari itu mulai dilupakan oleh masyarakat Kota Kediri, Jawa Timur. Dalam usahanya mewujudkan impiannya, ia tidak sendiri—Guntur berusaha keras mengajak satu per satu anggota lama sangarnya agar bersedia membantunya tampil kembali dalam sebuah pertunjukan ngamen.

1     3.Topo Pendem
Imam Syafii / 18 menit 24 detik / Komunitas Film Klaten & IKJ FFTV / 2018

Sinopsis : 
Seorang bapak berusaha menyembuhkan penyakit yang diderita putranya dengan cara tidak lazim.

1       4. Gowok: The Ins and Outs of a Woman’s Body
Steve Masihoroe / 17 menit 16 detik / Ruang Gelap X Nyantrik Films / 2018


Seorang ayah menginginkan putranya untuk menjadi lelaki sejati melalui proses pergowokan. Pergowokan adalah tradisi Jawa di tahun 1400 yang sudah hilang, di mana seorang ayah mencari wanita yang akan mengajarkan putranya bagaimana memuaskan wanita serta segala hal yang berhubungan dengan itu.

No comments:

Post a Comment

INSTAGRAM FEED

@festivalproyeksi