PROGRAM PEMUTARAN UTAMA 4


 Catatan Program Pemutaran Utama 4
Fragmen Ingatan Manusia dan Segala yang (Tak) Luput Darinya
Oleh Aulia Adityasih Ramadhanti

Setiap makhluk memiliki kekuatan untuk menerima dan mengingat informasi yang didapatinya. Mana lagi, manusia yang memiliki kelebihan untuk memproses informasi tersebut, dan mereduksi apa yang harus kembali ditangisi atau ditertawai, atau juga yang harus dilupakan (tentunya ini sebuah hukum alam). Ingatan-ingatan individu maupun kolektif tersebut diketahui sebagai memori, bagian dari cara pandang manusia berpikir (kognisi)1; mengingat apa yang pernah ada, dan mengumpulkan kepingan-kepingan untuk kembali dirayakan. 
Memori hadir sebagai wujud nyata ketidak mampuan menjawab masa kini (present) dan resiko akan masa depan. Dimana kegiatan mengenang ingatan dilakukan tidak hanya sekonyong-konyong hadir untuk menyesal atau mengaburkan lara namun sebuah bentuk perlawanan akan nyata yang dirasa.
Ada pula manusia menggunakan memori sebagai jembatan untuk terkoneksi kembali (recall-tanpa satu persatu). tidak mudah untuk memahami atau mengembalikan memori, sering kali manusia memiliki hambatan untuk mengingat kembali. Hambatan tersebut berupa noise ntah sterjadi secara kimiawi otak manusia tau memori buruk yang menghalangi.

Atas kegiatan mengingat dan mengenang, serangkaian film yang akan disajikan adalah: Burung yang tak kau hendaki berkicau, A Man and Old Cinema, When You Lost and Lose, dan Geblag 

Hidangan pembuka dimulai dari Burung yang Tak Kau Hendaki Berkicau (Andri Firmansyah, 2019) menjelaskan tentang kompleksitas antara pergolakan batin terhadap tak lain lagi, kepentingan kapitalis yang hanya ingin mengeruk lahan.Selama 8 menit, penonton akan dibawa pergi ke masanya masing-masing, mengingat tempat dan mencoba untuk mengenang dimana kita seharusnya menanam bibit memori ini? Kalau memang tidak ada satupun yang akan selamat dari mereka yang kerap mencari harta? 

Dilanjutkan dengan A Man and Old Cinema (  Abi R Muhamad, 2019 ) membawa kembali ke sebuah tempat. Tak ada yang lekang oleh kenangan di bioskop. Menonton film layar lebar bersama ayah ibu maupun menjalin asmara dengan kekasih. Sebuah dokumenter nostalgia bagi mereka mereka yang rindu dengan suara proyektor lama atau dengan berondong jagung. Bioskop senen yang kini sudah tidak beroperasi masih saja lekat dengan hati penjaganya. Apa daya ketika memasuki ruang megah berlayar putih itu dapat memberikan stimulus secara mawas ataupun tidak mawas.

When you lost and lose ( Daniel Victory, 2019 ) melanjutkan proses mengenang yang tak memiliki kabar, kenangan intrapersonal yang masih bisa dicari kebenarannya. Mereka yang hilang karena ketidak adilan suatu rezim , membawa kenangan pilu. Namun ketika proses pengingatan kembali dilakukan ( recall ) rasa tidak terima pasti akan akan selalu ada tiap mempertanyakan fakta yang tersimpan di dalam memori.

Geblag (Unseen: The Afterlife Section)  ( Raditya Kurnia Saputra, 2019 ) seperti menanyakan dan mempelajari kembali, apa yang kita ingin cari dari peristiwa yang terjadi di masa lampau. Semua yang bersarang di kepala kita malah jatuh seperti buah simalakama. Pada akhirnya semua akan dibalas sesuai dengan apa yang telah kita perbuat.
Mengingat sebelum kita jadi rengat.


 Program Pemutaran Utama 4

1.    1. Burung yang tak kau hendaki berkicau
Andri Firmansyah / 7 menit 39 detik / Cinethirteen Pictures / 2019



Keganasan para pemodal dan kencangnya pembangunan jalan tol, membuat Abah Ujang harus menerima kenyataan bahwa rumahnya harus dirampas

Kini hanya ada satu harapan bagi dirinya, semoga "rumah terakhirnya"tidak digilas seperti makam istrinya yang telah dilindas. 



1.     2.  When You Lost and Lose 
Daniel Victory / 5 menit 11 detik / Doa Mama Pictures / 2019





Mawar, merindukan suaminya yang diculik pada tahun 1998. Pada tahun 1998, Indonesia mengalami krisis keuangan. Momen ini memicu demonstrasi, yang mengakibatkan beberapa siswa terbunuh. Suami Mawar adalah salah satu korban yang terbunuh saat itu. Selama 21 tahun, Mawar selalu merasa sendirian. Dia tidak pernah menyadari, suaminya selalu dekat dengan bentuk lain.

1.     3. Geblag
Raditya Saputra / 19 menit 2 detik / GSSTF Unpad / 2019




Sari menyadari bahwa kehidupan sebuah kematian (afterlife) memang benar ada setelah sekian lama harus menghadapi masa sulit pasca kematian kedua orang tuanya.
            Apa yang Sari lakukan di dunia adalah yang akan ia dapatkan di akhirat. Sari kini dihantui ketakutan akan kematian dan perjalanan dimulai ketika ia berani mengambil satu tindakan tak terduga.




1.      4. A man & Old Cinema
Abi R Muhammad / 22 menit / wesmangan film / 2019




Seorang mantan proyeksionis masih tetap bertahan, merawat, dan berdiri didalam hiruk pikuk kegemerlapan modernisasi.

No comments:

Post a Comment

INSTAGRAM FEED

@festivalproyeksi