PROGRAM PEMUTARAN UTAMA 5




Catatan Program Pemutaran Utama 5
Batasan Teritori Tubuh, Identitas, dan Ruang dalam Narasi Sinematik


Oleh Adelia Eka Dita

Narasi dan penceritaan tertuang dalam ragam bentuk seperti film, novel, bahkan arsip sejarah,  dan bentuk-bentuk narasi ini merupakan wujud produk budaya yang beredar di masyarakat. Gagasan yang terkandung dalam narasi menawarkan kacamata untuk melihat realitas yang tidak bisa dipastikan sebagai kebenaran tertinggi bagi setiap orang, pun beberapa narasi timpang kerap lolos menjadi penceritaan yang dilanggengkan hingga bertransformasi menjadi budaya dominan bagi suatu kelompok. Narasi  mampu mengatur dan menentukan konvensi-konvensi tertentu yang memetakan relasi sosial dan spasial (ruang). Narasi sinematik misalnya, memiliki kekuatan bagai pisau bermata dua: di satu sisi narasi-narasi tersebut dapat memperkuat dominasi budaya dan identitas regional, serta merepresentasikan identitas ‘marginal’ sebagai sesuatu yang mengancam, inferior, dan terpisahnamun pada saat yang sama pula narasi-narasi mengenai kontestasi identitas dan ruang ini dapat menimbulkan perasaan sentimentil seperti ketakutan dan teror bagi budaya dominan yang eksisting, terutama mengenai bagaimana dan siapa yang dapat menyeberang batasan teritorial sosial dan fisik yang telah ditetapkan sebagai milik mereka1.

Kelima film dalam Program Pemutaran Utama 5 memiliki narasi yang merekam proses pertukaran atau penyeberangan seseorang atau suatu sistem ke batasan teritorial lain. Teritori yang dimaksud dapat dimaknai mulai dari teritori paling intim yakni teritori tubuh, identitas, dan ruang. Program ini berfokus pada bagaimana manusia secara natural selalu melekat dengan batasan-batasan sistem baik yang ditentukan oleh dirinya sendiri maupun oleh lingkungan sosial, serta bagaimana reaksi mereka saat seseorang atau sistem lain menginterupsi batasan-batasan teritori diri. Film Sebelum Mencicipi Kematian (Surya Gemilang, 2018) menampilkan dialog dramatis antara Ayah dan anak bernama Budi yang pulang dengan luka memar hasil dipukuli oleh kawan sebayanya. Budi berkata pada ayahnya bahwa ia tidak melawan karena mendiang Ibu tidak mengajarkan kekerasan. Mendengar hal tersebut, Ayah langsung menantangnya Budi untuk memukulnya dan bertingkah sepatutnya ‘laki-laki’. Rupanya, amarah tersebut adalah refleksi ketakutan sang Ayah akan kematian yang dirasakannya cukup dekat, dan ia takut Budi tidak dapat menjaga dirinya sendiri ketika ia tiada.

  Kemudian masih dalam hubungan relasional anak dan bapak, film Satu Jalan dan Jalan yang Lain (Muhammad Fikri, 2019) menceritakan kisah reuni antara Lisa, siswi SMA tomboy dengan Tarno, bapaknya yang hilang tanpa pamit selama lima tahun dan kini telah menjadi seorang waria. Tarno bersikeras mengajak Lisa yang enggan memiliki hubungan lagi dengannya untuk mengunjungi makam ibu yang tak pernah diketahui wujudnya oleh Lisa. Setelah percakapan dingin keduanya selama perjalanan di kendaraan bak terbuka, barulah terungkap fakta bahwa ibu Lisa sudah meninggal dunia sehingga selama ini Tarno membesarkan Lisa seorang diri. Dinaungi perasaan bersalah, Tarno memutuskan untuk menjadi waria sehingga ia dapat menjadi sosok ‘ibu’ bagi Lisa yang tak pernah diperkenalkan dengan nilai femininitas di masa kecilnya. Kedua film ini menggambarkan relasi sosial anak dan orang tua yang terdisrupsi batasan teritorial identitas, terutama gender. Orang tua digambarkan sebagai kekuatan dominan yang merasa perlu mengatur bagaimana seorang anak mengkonstruksi identitasnya, maskulin atau feminin. Penekanan akan simbol-simbol gender ditampilkan melalui kado Tarno kepada Lisa, yakni sebuah gaun yang terlihat ganjil bagi Lisa dengan rambut pendek dan gestur maskulin, begitupun perintah Ayah kepada Budi untuk memukul dirinya sebagai simbol kejantanan. Anak-anak ini, sebagai pihak marginal dalam narasi berani memutar standar dengan meyakini teritori identitasnya sendiri. Adapun pengungkapan bahwa keinginan intens untuk mengontrol dari para orang tua merupakan refleksi ketakutan dan kerapuhan mengenai pandangan diri mereka akan kapabilitasnya untuk menjalankan peran rangkap sebagai  orang tua dengan absennya figur pasangan. Gagasan serupa juga diangkat oleh film tanpa dialog Kisah dalam Rumah (Maul Arta, 2018) dalam durasi yang singkat. Berfokus kepada Anto, sosok bapak yang menjadi waria demi pengobatan anaknya. Anto, seperti Tarno dengan alasan lain, menata ulang identitasnya dan merelakan orang lain memasuki teritori tubuhnya demi keberlangsungan hidup sang anak yang sedang sakit di ruangan lain.

Subjek dengan konfik kontestasi identitas dan batasan teritori tubuh dalam dua film berikutnya adalah pasangan suami istri. Engkau Adalah Sakit dan Aku Adalah Luka-lukamu  (M. Rizal Hanun, 2019) bercerita mengenai kegugupan pasangan pengantin baru Anam dan Fitri di malam pertama dalam nuansa film hitam putih. Suasana malu-malu berbalik menjadi pertengkaran ketika Fitri mengaku bahwa dirinya tidak lagi perawan. Pasangan suami istri lain Ratih dan Jaya dalam Asmaradana (Eka Wahyu Primadani, 2018) terlihat harmonis walau berada dalam situasi yang tidak normal. Ratih mengidap parafilia akibat trauma masa kecilnya, yakni kelainan seksual yang mana dirinya merasakan kepuasan jika disakiti secara fisik saat berhubungan badan. Eskalasi terjadi ketika cinta Jaya tak lagi dapat membendung rasa bersalahnya jika harus menyiksa Ratih demi kepuasan istrinya sendiri. Relasi sosial dan ruang senantiasa muncul melalui atmosfir ganjil yang menaungi para penonton yang dibesarkan dalam lingkungan patriarkis. Seumur hidup, narasi bahwa laki-laki memiliki kuasa dominan ketimbang perempuan telah ditenun dalam  budaya masyarakat dan praktik sehari-hari media. Konstruksi menahun itu kemudian direkonstruksi oleh film-film yang menampilkan perempuan dan pihak marginal lain dalam program ini melalui pertukaran dan penyebrangan batasan teritori tubuh, identitas, dan ruang. Para perempuan dalam kedua film ini sebagai pihak marginal menurut konstruksi budaya dominan digambarkan sebagai pihak yang mengambil keputusan, memiliki klaim dan otonomi terhadap teritori tubuhnya sendiri.

Narasi dan penceritaan umumnya berfokus pada fungsi pembangunan komunitas, sebab cerita membangun konsensus, penuturan kesepahaman akan budaya bersama, dan pengaturan etiket yang lebih vital nan dalam2. Namun, narasi dan antinarasi muncul dalam dua fungsi yang sama penting, selain mengkonstruksi paham bersama juga dapat mendekonstruksinya: narasi dapat menunjukkan bahwa apa yang selama ini kita percayai adalah sesuatu yang konyol, representasi timpang, bahkan kejam. Narasi pula lah yang menunjukkan kita jalan keluar dari jebakan pengasingan terhadap suatu kelompok yang sifatnya tidak adil. Mengutip Delgado, narasi merupakan dialektika kreatif yang membangun juga menghancurkan, serta yang membuat kita memahami kapan waktunya tiba untuk mulai merelokasikan kuasa. Dan untuk itu, narasi-narasi sinematik dalam program pemutaran eksplorasi batasan terirori manusia dan lingkungan sosialnya ini telah menyampaikan fungsinya yang bagai pisau bermata dua melalui pelibatan proses konstruksi dan destruksi yang tentu—sama vitalnya—bagi ajakan menahun untuk kita mulai (dengan seadil-adilnya) merelokasi kuasa.

1 Mains, S. P. Imagining the border and Southern spaces: Cinematic explorations of race and gender. GeoJournal (59) hal. 253–264. 2004.  Kluwer Academic Publishers, Netherlands.
Delgado R. (ed.), 1995: Critical Race Theory: The Cutting Edge. Temple. University Press, Philadelphia.





MATERI KATALOG 
Program Pemutaran Utama 5


1. Sebelum Mencicipi Kematian
Surya Gemilang /  10 menit 24 detik / FFTV-IKJ/ 2018
C:\Users\Vina\Downloads\Salinan Still 2.jpg
Sinopsis :
Ayah Budi (35 tahun) mendapati anaknya, Budi (10 tahun), pulang dengan memar di wajah dan pakaian ternoda. Budi rupanya lagi-lagi di-bully oleh teman-temannya. Ayah Budi lantas memaksa Budi untuk berlatih berkelahi; ia meminta agar latihan dimulai dengan Budi memukul perutnya. Namun Budi terus menolak untuk menyerang, sehingga Ayah Budi marah-
marah. Ketika situasi semakin emosional, Ayah Budi mulai menangis, mengatakan bahwa sebenarnya ia takut Budi akan semakin tertindas nanti. Pasalnya, Ayah Budi merasa akan
segera mati karena penyakit di perutnya—penyakit yang dulu diderita Ibu Budi sebelum meninggal. Budi pun, sambil menangis, memukuli Ayah Budi bertubi-tubi.


2. Engkau Adalah Sakit dan Aku Adalah Luka-lukamu
M. Rizal Hanun / 15 menit 10 detik / Kamarkecil Studio / 2019
C:\Users\Navyan\Downloads\3 STILL PHOTO\STILL PHOTO 2.png
Sinopsis:  Anam dan Fitri baru saja menikah setelah selama dua tahun berpacaran. Mereka kini hendak melakukan kegiatan seperti selayaknya pengantin baru di malam pertama. Akan tetapi di tengah malam tersebut, Anam mendapatkan fakta pahit dari pengakuan Fitri yang tidak bisatidak membuatnya menjadi marah, hancur dan berujung pada rasa kecewa yang amat dalam.

3. Satu Jalan dan Jalan yang Lain
Muhammad Fikri / 12 menit 31 detik / Rintik Films / 2019
C:\Users\Navyan\Downloads\Still Photo 3.jpg
Sinopsis: 
Tepat dihari kelulusan SMA, yang besertaan dengan hari ulang tahun nya Lisa (18). Bertemu kembali dengan sang ayah Tarno (40). yang sejak lima tahun silam pergi meninggalkan nya, tanpa kehadiran sosok seorang ibu Lisa tumbuh menjadi anak yang justru berlawanan dengan ayahnya yang merubah penampilan karna kepergian sang istri yang tak sanggup ia hadapi.

4. Asmaradana
Eka Wahyu Primadani / 24 menit  3 detik / Taman Raung Film & Hasta Brata Production / 2018
C:\Users\Vina\Downloads\4.jpg
Sinopsis: 
Ratih (20) dan Jaya (23) adalah sepasang suami istri yang baru menikah. Ratih (20 tahun) memiliki trauma masa kecil yang menjadikannya seorang wanita dengan kelainan seksual. Awalnya Jaya tidak tahu bila Ratih memiliki parafilia. Karena kelainan Ratih tersebut, Jaya harus menyiksa ratih terlebih dahulu sebelum mereka melakukan hubungan seksual seperti memukul dengan tongkat, meneteskan lilin panas dan sebagainya. Hal tersebut tentunya karena keinginan Ratih, sedangkan pada diri jaya terjadi konflik batin dari lubuk hatinya yang terdalam.

5. Kisah dalam Rumah
 Maul Arta / 3 menit  31 detik / FFTV-IKJ / 2018
C:\Users\Navyan\Downloads\JADI.00_00_45_14.Still022.jpg
Sinopsis: 
Bercerita tentang Anto (38 tahun) seorang ayah yang rela mengorbankan semuanya demi kesehatan anaknya (5 tahun) termasuk mengorbankan harga dirinya untuk menjadi waria.


No comments:

Post a Comment

INSTAGRAM FEED

@festivalproyeksi